Close [X]
Assalaamu 'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh


Winter in Turkey 2 : The Commitment, First Meeting, Buying Tickets, and Turkey's Visa





بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين وصلى الله على عبده ورسوله محمد واله وصحبه وسلم

Pada seri sebelumnya Winter in Turkey 1 sudah dijelaskan alasan-alasan mengapa Turki menjadi tujuan wisata kami. Di sesi ini saya akan tulis tentang First Discourse (Wacana Awal) dan Prepare to Turkey (Persiapan ke Turki) yang kami lakukan.

Jadi.. Wacana ingin ke Turki sebetulnya sudah lama ada, namun baru menguat sejak akhir bulan April 2016. Saat itu saya dan beberapa teman angkatan sempat jalan-jalan dan mampir ke Museum Turki Utsmani yang ada di Kota Madinah. Di area itu juga berdiri sebuah masjid kecil dengan gaya arsitek masjid-masjid di Turki, namanya Masjid Al-Anbariyyah. Di situlah wacana pengen nikah ke Turki menguat.

Hari demi hari berlalu begitu saja. Usbu mayyit, UAS, libur shoyfiyyah / summer (musim panas) - haji, lalu kami kembali masuk kuliah tahun ajaran baru di pertengahan bulan September 2016. Waktu berlalu begitu saja tanpa tindak lanjut terhadap wacana itu.

Sebelum dilanjutkan, seperti yang sudah saya tulis pada posting sebelumnya akan ada perkenalan tokoh utama terlebih dahulu. (Aih udah macam novel aja nih.. Novel malah kalah kali, kan nggak ada fotonya? ‏‎-_-)

Foto saat first meeting urut dari kiri; Basrul (ig: daeng_rul), Bilal (ig: santrinabawinew), Alam (ig: alamsyeh), Musthofa (ig: fitri_mushthofal), dan Alfin (ig: mohammadalfin12). Foto dari Akh Basrul.

Cukup ya perkenalannya, cerita dilanjutkan.. Tanggal 18 Oktober 2016 dibuatlah Grup WhatsApp berjudul "Going to Turkey" oleh Akh Alam. Dan saya baru masuk grup tanggal 9 November 2016 sebagai anggota terakhir. Kok bisa terakhir?

Baiklah saya akan jelaskan.. Jadi.. Awalnya saya belum ingin segera ikut teman-teman ke Turki dengan suatu komitmen yang saat itu saya pegang kuat. Apa itu? Mau tau aja apa mau tau banget? Atau mau dilamar? Eh jadi nyasar. Kembali ke iPad -_-

Saat itu saya sempat berkomitmen untuk tidak pergi ke tempat-tempat indah kecuali sudah ada Sang Bidadari Halal yang mendampingi, toh kalau belum sempat selama jadi mahasiswa di Madinah travel umroh dari Indonesia juga sudah banyak yang sekalian tour ke Turki.

Komitmen saya itu lalu dikomentari oleh Akh Alam dengan beberapa point, antara lain yang saya lupa-lupa ingat; "Lewat travel umroh itu terbatas, paling cuma sekian hari dan cuma di Istanbul. Mending ente ikut kita dulu backpacker, jadi nanti kalau sudah ada pasangan dan mau ke Turki nggak bingung lagi. Jadi tinggal cerita ke pasangannya; dulu sekian tahun yang lalu begini.. begini..". Akhirnya saya memutuskan ikut.

Kamis, 10 November 2016 malam Jum'at pukul 21:00 kami melakukan first meeting (kumpul perdana) di cafe samping Masjid Syaikh Bin Baz, Universitas Islam Madinah. Dalam kumpul ini ditetapkan beberapa hal;

1. Anggota Grup yang fix berangkat 5 orang di atas dan tidak menerima tambahan lagi. Sebab, semakin banyak anggota akan semakin ribet. Semakin banyak kepala semakin sulit bersatu. Belum lagi masalah tunggu-tungguan.

2. Kota tujuan yang akan dikunjungi selama di Turki ada 5, yaitu: Istanbul, Cappadokia, Pamukkale, Izmir, dan Bursa.

3. Download aplikasi TripAdvisor untuk memudahkan mengetahui tempat wisata apa saja yang ada di suatu kota.

4. Memperkirakan secara umum waktu perjalanan antar kota beserta tarif-tarif transportasi dan hotelnya.

5. Bagi tugas; Basrul dan Alfin ngurus tiket pesawat, saya ngurus visa Turki dan booking hotel dibantu Alam, Musthofa ngurus visa Saudi.

6. Malam itu juga saya langsung cek harga tiket melalui website Wego dengan rute penerbangan Madinah-Istanbul. Ternyata diantara yang paling murah ada maskapai paling syar'i sedunia (versi saya), yaitu SaudiAirlines dengan harga tiketnya cuma SAR 1.329.


7. Diputuskan untuk membeli tiket besok siang ba'da sholat jum'at di Masjid Nabawi. Uang sebesar SAR 1.400 serta fotocopy paspor agar dikumpulkan kepada Akh Basrul atau dibawa langsung besok harinya.

Rapat berakhir dengan sesi foto-foto. Namanya juga anak muda..  ^_^

  
Kedua foto dari Akh Musthofa.
Jum'at, 11 November 2016 kami berangkat masing-masing secara terpisah untuk melaksanakan sholat jum'at di Masjid Nabawi. Ba'da jum'at saya menuju bagian kiri masjid sambil menunggu kabar dari yang lain. Setelah mengaktifkan internet ternyata Akh Alam mengirim pesan di grup "Karena Khutut Saudi yang di albaik sudah pindah ke Rosyid Mall maka kita kumpul di tempat-tempat halaqoh Qur'an yang belakang ya (yang lurus dari pintu 21)". Akh Basrul yang tidak punya koneksi internet saat ditelpon katanya sudah berada di kantor lama maskapai Saudia yang sudah pindah. Akhirnya kami minta untuk balik ke masjid.

Setelah kelima personil da'i muda komplit, kami lalu menuju gerbang kiri masjid dekat pemakaman Baqi' untuk mencari naql (alat transportasi) ke kantor baru Maskapai SaudiAirlines.

Sesampainya di tempat tujuan kami lalu menanyakan harga tiket sesuai tanggal dan jam yang sudah kami cek sebelumnya melalui website Wego. Ternyata oh ternyata harga di kantor maskapai resminya adalah SAR 1.6XX hampir SAR 1.700, jauh lebih mahal dari dugaan. Kami memikirkan untuk beli tiket online dan mulai menuliskan data identitas masing-masing di grup whatsapp.

Karena sudah terlanjur ke wilayah itu (Hayyu Robwah), kami sekalian mampir ke Rasyid Mall yang letaknya bersebelahan dengan kantor maskapai. Lihat-lihat barang di Carrefour, lihat-lihat sepatu, dan kami baru tau kalau di bagian tengah mall ada kolam air yang di atasnya ada cafe berbentuk perahu. Indah banget.. ^_^

Ba'da asar kami memutuskan untuk pulang. Kami berhenti di Math'am (Rumah Makan) Kautsar yang lokasinya tak jauh dari kampus untuk makan. Laper juga nggak makan siang habis sholat jum'at, belum dapat tiket lagi

Setelah makan, sekitar setengah / 1 jam sebelum waktu magrib saya dan Akh Basrul meluncur menuju kamar salah seorang Ustadz / Senior untuk minta tolong dibelikan tiket pesawat via online, karena beliau punya kartu kredit.

Di kamar beliau kita melihat langsung harga tiket online di website maskapai SaudiAirlines lalu mengabarkan ke grup untuk dirundingkan bersama. Tanggal keberangkatan sepertinya saat itu tidak ada masalah, kami sepakat berangkat tanggal 26 Januari 2017 setelah UAS berakhir. Adapun untuk tanggal kepulangan terjadi kebingungan diantara kami.

Hasil cek harga tiket online SaudiAirlines saat itu;
- Tanggal 2 dan 5 Februari = SAR 1.480,
- Tanggal 3 dan 4 Februari = SAR 1.510

Yang kami bingungkan bukanlah masalah harga, akan tetapi masalah visa Saudi, visa keluar dan masuk (khuruj wa 'audah) kami di Kerajaan Saudi Arabia (KSA). Sebab jika terlambat pulang, bisa saja kami tidak bisa masuk dan melanjutkan kuliah lagi di Madinah. Atau jika tetap boleh masuk mungkin akan didenda sekian ribu real karena keterlambatan dan kami tak ingin itu terjadi.

Masalah pertama terkait visa, kira-kira visa yang akan turun wajib masuk Saudi sebelum hari sabtu atau sebelum hari ahad? Kami pun minta teman-teman yang tidak ikut untuk mengecek visa libur musim panas kemarin, wajib masuk sebelum hari sabtu atau minggu?

Tak lama kemudian Akh Musthofa mengirimkan foto visa libur musim panas lalu yang di dalamnya tertulis "Return Before: 17/09/2016". Tanggal 17 September 2016 adalah hari sabtu, jadi wajib masuk sebelum sabtu, walau kuliah di semester barunya mulai hari ahad. Terjawab sudah, perkiraan visa yang akan keluar tertulis "Return Before: 04/02/2017" / wajib pulang sebelum Sabtu, 4 Februari 2017.

Masalah visa kedua, misalkan benar di visa tertulis harus pulang ke Saudi sebelum tanggal 4 Februari 2017, pertanyaan yang ada di otak kami adalah; Bolehkah kami masuk Saudi di tanggal 4 Februarinya, meskipun tertulis harus masuk sebelum tanggal 4?

Tentunya kami tidak mungkin memilih tanggal 5 Februari karena jelas sekali terlambat. Akhirnya kami memberanikan diri untuk memutuskan fix pulang tanggal 4 Februari, entah pagi atau siang yang penting masih tanggal 4 Februari. Ustadz / Senior yang membantu kami ini juga mengatakan in syaa Allah masih bisa masuk Saudi tanggal 4 itu, meskipun di visa sebelum tanggal 4. Diperkuat lagi oleh pengalaman seorang teman yang nyatanya masih bisa masuk, walau harusnya pulang sebelum hari itu.

Jadi tiket yang ingin kami beli Maskapai SaudiAirlines PP Madinah-Istanbul langsung (tanpa transit), berangkat 26 Januari 2016 dan pulang tanggal 4 Februari 2017, harganya SAR 1.510 sama dengan pulang tanggal 3 Februari 2017. Kenapa tidak maskapai lain seperti QatarAirways misalnya? Alasan pertama sudah saya sebutkan di atas, karena Saudia bisa disebut maskapai tersyar'i lah, walau masih banyak yang perlu dibenahi. Kalau maskapai QatarAirways transitnya itu cukup makan waktu.

Ba'da magrib kami dibantu Ustadz / Senior untuk booking tiket langsung via website resmi Saudia, tanpa lewat Wego. Karena sebetulnya Wego hanya sebuah website (anggap saja mall) yang mengumpulkan website-website penjual tiket lainnya (anggap aja toko-toko di dalam mall) dengan harga bervariasi dan belum kami ketahui terpercaya atau tidak. Karena alasan keamanan ya kita pilih booking langsung via website resmi maskapai saja lah.

Tiket berhasil dibooking. Saat itu yang kami pahami untuk bisa dapat kode booking dan nyicil perlu bayar dulu SAR 350 lewat kartu kredit, sudah termasuk harga tiket. Saya dan Ustadz / Senior ini pun segera pergi menuju ATM Al-Rajhi yang berada di dekat gerbang depan kampus UIM dengan berboncengan dengan motor matic beliau. Di sana saya transfer uang SAR 500 ke rekening beliau. Setibanya kembali kita di kamar beliau, kita baca lagi ternyata biaya booking SAR 350 itu tidak termasuk harga tiket. Untungnya belum sempat kita bayar. Alhamdulillaah 'ala kulli haal.. Dari ba'da jum'at sampai waktu isya ngurus beli tiket nggak kelar-kelar.. -_- Sabar mblo, in syaa Allah istrinya cantik dan sholehah.. ^_^

Malamnya, pukul 21:25 kutulis penjelasan untuk teman-teman lainnya di grup Going to Turkey. Intinya begini:

- Tiket belum bisa dibeli karena saldo kartu kredit Ustadz / Senior kurang dari SAR 7.550
Apakah tidak bisa booking dulu nanti bayar?
- Bisa, biayanya SAR 350 tidak termasuk tiket. Jadi totalnya SAR 7.900 jika booking dulu.
Kenapa tidak setor mlm ini ke ATM Ustadz?
- saya sudah kecapean, kaki sakit, pecah-pecah karena perubahan musim ini.

Opsi:
1. Besok pagi isi ATM Ustadz
2. Nunggu hari ahad tanya dulu ke kantor maskapai yang ada di dalam kampus. Kalau harganya lebih murah atau sama langsung beli cash aja. Kalau lebih mahal kembali minta tolong Ustadz.
Saya menguatkan opsi nomor 2.

Keesokan harinya 12 November 2016, pukul 14 siang kusampaikan di grup tawaran bantuan Ustadz untuk menyetorkan uang kami yang SAR 7.550 ke rekening beliau melalui mesin setor yang ada di dekat Haram Nabawi, biar selesai malam itu juga. Lalu kutanya pendapat teman-teman, apakah tetap nunggu besok (sesuai opsi 2) atau sore ini saja ikut tawaran Ustadz?

Akh Alam merespon: "Besok aja. Kalau di khutut tidak sesuai baru beli online. Semoga harga masih sama".

Akh Mustofa juga merespon: "ana sudah tanya ke Anan Travel harganya SAR 1.590 (lebih mahal). Sedangkan kantor maskapai Saudia tutup".

saya merespon: "Kalau besok minta Ustadz juga, maka kita perlu setor uang sendiri ke ATM, hari ini mumpung beliau sekalian ke Haram".

Akh Alam: "Gimana baiknya PJ tiket pesawat aja".

Akh Basrul menyatakan bahwa sudah chat Ustadz / Senior dan setelah Asar mau ke kamar beliau untuk ngasih uang yang akan disetor untuk beli tiket sebesar SAR 7.550

Pukul 16:54 Akh Alam posting lagi: "Tolong kita ubah jadwal ya untuk ke Madinahnya tanggal 3 sore. Intinya landing di Madinah sebelum tanggal 4 ya. Harap Akh Alfin sama Akh Basrul kasih kabar ke Ustadz dan dikawal ketika pesan tiketnya".

Pukul 19:11 Akh Basrul menyatakan bahwa nunggu kabar beliau baru ke kamar, takut ganggu.

Pukul 20:20 Akh Basrul kembali mengirim pesan yang sepertinya forward dari Ustadz. Berikut isinya:
Tanggal 3 cuma ada 3 penerbangan dari Istanbul-Madinah

Yang harganya cuma 1510 cuma jam 23.00-02.30 (3 jam 30 menit langsung)
Selain itu jam 11.35-19.30 (transit 8 jam) nambah 57 SR

Sama jam 22.50-07.00 (transit 8 jam 10 menit) nambah 57 SR juga

Kalau tanggal 4 adanya jam 13.05-16.35 (tanpa transit)

Selain jam itu bayar lebih 150 SR
Akhirnya dengan mengucap Bismillah kami memilih penerbangan pulang tanggal 3 pukul 23.00-02.30, meskipun tibanya tetap tanggal 4 juga.

Pukul 21:12 Akh Basrul mengabari bahwa tiket sudah berhasil dibooking. Alhamdulillaah..

Setelah itu visa Turki kami juga langsung diurus dengan uang SAR 500 yang kemarin ditransfer dari ATM saya ke ATM beliau. Rencana awal cuma buat biaya booking tiket, karena tidak jadi digunakan pas lah buat beli visa Turki untuk 5 orang.

Untuk pesan visa Turki beliau butuh data tambahan yang tidak ada di data paspor, yaitu: Nama Bapak, Nama Ibu, dan Nomor Hp. Kamipun segera mengirim data yang diminta.

Ustadz menyampaikan bahwa biaya visa Turki sebesar $ 25 + $ 0,7. $ 25,7 kurang lebih SAR 100, jadi uang anggaran kami berlima yang SAR 500 pas.

Pukul 22:56 saya sudah menerima kiriman file pdf visa Turki dari beliau. Alhamdulillaah.. Urusan tiket dan visa Turki selesai.

Pelajaran singkat yang dapat di ambil dari tulisan panjang ini adalah perlunya kekompakan, bagi tugas, dan sabar ketika realita tak sesuai rencana. Dari tahap awal saja pembaca bisa perhatikan bahwa butuh perjuangan panjang hingga kami bisa menginjakkan kaki di Benua Eropa, tidak semudah membalik telapak tangan saja.

In syaa Allah bersambung ke Winter in Turkey 3 : Intenerary in Turkey

Copyright @ SantriNabawi.Com
Madinah Al-Munawwarah,
14 Jumadil Ula 1438 H / 11 Februari 2017 M



Perhatian!!! Jika Anda merasa artikel website SantriNabawi ini bermanfaat, silakan share ke sosmed Anda dengan mengklik tombol share yang sudah disediakan di bawah ini! Copas/repost WAJIB mencantumkan bahwa sumbernya dari website SantriNabawi ini.

Jika dalam posting website SantriNabawi terdapat kesalahan, atau Anda ingin sekedar memberi kritik dan saran kepada admin, silakan kirim pesan saja ke fanspage SantriNabawi! Tidak perlu posting surat terbuka di website lain!!!

Dapatkan update info terbaru dengan Tips Jitu Agar Tak Ketinggalan Info Terbaru Website SantriNabawi.Com

Bagikan via

0 Response to "Winter in Turkey 2 : The Commitment, First Meeting, Buying Tickets, and Turkey's Visa"

Post a Comment

Komentar tanpa nama (Anonim) tidak akan dijawab. Jika ingin berkomentar silakan login Gmail Anda atau pilih Name/URL! Name isi nama Anda dan URL isi alamat fb Anda, misal fb.com/ikhwan.sholeh

Semua komentar selalu dimoderasi dan tidak akan muncul sebelum disetujui oleh admin. Oleh karena itu, HARAP TIDAK MENGIRIM KOMENTAR LEBIH DARI SEKALI! Jika admin belum menjawab harap bersabar!

Centanglah bagian "Notify Me" agar Anda segera menerima email pemberitahuan saat komentar Anda telah dijawab admin!


Sosmed SantriNabawi dot Com
Instagram - Facebook - Twitter - Youtube